Minggu, 05 Juni 2011

Pasir-Pasir Aspal


Angkot berhenti dijalan yang menuju rumah. Tidak ada angkot yang langsung bisa turun didekat halaman rumah. Ya, akupun tahu jalan yang kuinjak ini tidak seramai yang biasa angkot lewati setiap hari dari pagi hingga sore. Jika ada angkot yang masuk jalan itu karena mereka telah dipanggil untuk menjemput dan mengantar orang-orang kampong, jika angkot-angkot itu datang mencari penumpang dijalan ini seharipun bisa dibilang tidak akan ada yang berniat untuk menggunakan jasanya.
Aku terperangah dengan jalan yang telah lama diidamkan oleh banyak orang dikampung ini. Jalan ini tidak lagi berkerikil seperti dijaman pemerintahan Pak Kalebun[1] Laju. Kendaraan-kendaraan melaju santai dengan tarikan gas yang lebih tajam dari biasanya. Bahkan gas itu dihentak-hentakn senyaring-nyarinya. Suara gas membentur gendang telinga telanjang orang yang berdiri dipinggir jalan. Orang itu hanya bisa mengusap dan mengelus dada. “Ya Gusti selamatkan orang itu dari bahaya apapun bentuknya”.
Masih tergiang ditelingaku seperti bunyi lebah yang baru saja menghinggapi rumah barunya. Giangan itu adalah buah bibir orang-orang kampung “Pak Kalebun tak mau diaspal”.
“Mana ada Pak Kalebun mau diaspal!”
“Ya, kalau Pak Kalebun mau diaspal, itu Pak Kalebun tidak punya akal”
“Ya. Makanya dia tidak mau. Memangnya aspal tidak panas?”
“Sekiranya sampai kesini saja jalan ini diaspal, orang-orang yang akan pergi ke pasar Bintaro pun tidak akan begitu susah. Kita hanya diberi janji sejal awal Pak Laju jadi Kalebun.”
Orang-orang selalu berkelakar dengan kata-kata yang menghangat telinga. Nada-nada seperti itulah yang selalu terlontar dari kedua bibir mereka. Mereka mendengar jalan di desa-desa tetangga telah nyaman dan mereka tak lagi menggerutu tentang  jalan telah beraspal.
Tiba-tiba di benakku mekar setangkai tanda tanya kenapa jalan ini baru sekarang terlaksana. Padahal tidak hanya warga kampong Longos saja yang menggunakannya, setiap hari ada dari mereka menggunakannya untuk berangkat ke pasar, ke sawah, pergi menyabit dan pergi ke kantor bagi sebagian orang yang sudah berpikir. Dengan sabar kami tetap melewatinya. Meski sakit rasanya bokong  orang-orang ketika ingin berangkat perjalanan.
Lorongnya berbatu tajam mengerikan. Membuat kendaraan yang orang tunggagi seperti berombak. Memantul-mantul antara batu yang satu pindah ke satu yang lain. Sungguh  mudah air mata orang bercucuran. Melihat tetangga yang mencium bebatuan. Gigihnya patah satu. Kadang ada pula yang bibirnya hancur dan darahnya tak aku mengerti cara menghentikan alirannya. Sedangkan dokter jauh dari desa. Orang pasti mendengar setiap sore hari tak luput orang yang telah mengerti cara berkendara atau yang masih belajar. Seperti adikku dan anak-anak lain.
Ya. Aku ingat sekarang. Sore itu aku dan sepupuku ingin menonton pertunjukan dialun-alun kecamatan. Kami berangkat tanpa sepengetahuan orang tua. Dalam perjalanan sebelum sampai dijalan raya yang biasa orang lewati untuk menuju “Pantai Lombang”, aku dikagetkan dengan sebuah tengkorak sepeda. Ada patahan sepeda jengki disamping jalan. Aku dan sepupuku berhenti. Kami ingat. Sejam yang tetanggaku juga berangkat. Hah?
Aku masih tertegun dengan rongsokan sepeda itu, roda depannya tak lagi sebaut dengan dengat setirnya. Innalillah. Air mataku tak dapat aku tahan. Melihat darah yang bercucuran dari bibir tetanggaku itu yang juga teman bersekolah. Kami tak dapat menanyakan bagaimana kejadian itu terjadi. Kami balik haluan. Tak dapat melanjutkan, bukan karena kami takut mengalami hal yang sama. Tapi aku melihat ayah datang menyabit. Sehingga kami pulang bersama.
Ya. Disinilah Saniman terjatuh, kakak kelasku itu. Ucapku seorang diri dalam jalan pulang menuju halaman rumah. Orang-orang tetap menggerutu “Pak Kalebun tak mau diaspal”
***
Air mataku mengalir mirip lelehan lilin yang terbakar menjadi penerang saat lampu padam. Ibupun begitu. Betapa tidak, adikku yang masih berumur antara tiga tahunan kurang, kakinya terhimpit diantara roda depan. Itu terjadi saat jalan menurun disamping kuburan menuju halaman. Aku kaget. Sepeda yang tak ku rem ternyata melambat dengan sendirinya. Aduh. Adiku menangis setelah aku tarik kakinya dari roda yang menghimpitnya. Lukanya selebar matanya. Aku tak mampu mendengar jeritnya.
“Pak Kalebun tak mau diaspal” kata orang tuaku berkelakar pada orang.
***
Hah! Legalah hati orang-orang kampung ini sekarang. Meski tak senyaman jalan ibu kota. Tak selicin jalan menuju istana negara atau didepan gedung agung. Tapi aku telah melihat senyum-senyum yang bermekaran dibibir mereka. Penantian mereka telah terpenuhi. Redakah buah bibir itu sekarang?
Aduh! Ini bukan kesalahan jalan yang telah berhamburan lagi bebatuannya. Tapi ini karena mataku yang melongo-longo kesana kemari. Melihat pohon Jaranan yang mulai mengering. Aku memang suka mencari kepompong raksasa yang bertapa dan  kupu-kupunya pun kami menyebutnya dengan kupu-kupu gajah. Karena kupu-kupu itu sangat besar sekali.
Ada pengemudi berhenti disampingku.  Menawarkan jasa boncengan gratis. Aku lupa siapa dia. Tapi dia masih hafal dengan namaku dan menanyakan kapan datang dan kenapa tidak minta jemput. Aku jawab sederhana kalau aku suka jalan kaki. Dia menyuruhku naik. Aku tak dapat menolaknya.
“Jalanini sejak kapan diaspal?”
Dia masih mengingatnya. Tak lama kemudian. “Enam bulan yang lalu.” Katanya dengan melempar puntung rokoknya.
Diapun menceritakan kekagumannya tentang Kalebun sekarang yang tidak hanya telah berhasil mengamankan desa dari sarang maling yang sering mengganggu ketenangan warga kampung.
“Sekarang orang-orang pada tenang tidur. Tak terdengar lagi ada rumah warga yang kebobolan maling. Meski terkadang ada barang warga yang hilang, keesokan harinya langsung ketemu. Kata orang Pak Kalebun sudah tahu akan dibawah kemana barang curian itu. Terkadang kepunyaannya Pak Kalebun yang dibawah oleh orang-orang bekerja dirumahnya. Tapi satu hari kemudia langsung ketemu. Dan malingnya dihajar sampai berdarah hidungnya.”
“Berbeda dengan Pak Kalebun sebelumnya. Aku rasa kamu masih ingat.” Dia menoleh
Aku cuma bingung sendiri. Mana aku tahu. Aku tentang keberadaan desa disaat berada ditangan Pak Kalebun Laju. Pada masa itu aku belum mengerti tentang apa-apa. Setahuku cuma jalan ini belum diaspal sampai akhir jabatannya, meski dia menjabat selama sepuluh tahun. Katanya tidak ada gunanya.
“Maling-maling dimasa Kalebun Laju yang penting bagi hasil. Sudah selamat. Tak ada hukuman dan lain-lain. Malingnya yang aman. Warganya seperti hampir gila. Harta-harta yang dimilikinya hilang dalam semalam. Seperti sapi, yang paling sering hilang dan itu harta Qarun warga. Kamu tahu sendiri, sapi disini sangat dihargai.” Dia berhenti diambang jalan yang menikung.
“beras-beras untuk orang miskin hanya untuk orang-orang dekatnya. Namun setelah pemelihan Kalebun Anyar dan terpilih, semua maling tidak lagi bersarang, meski saingan Kalebun Anyar pernah berkata akan mencuri di desa ini untuk mengembalikan modal pencalonan tapi mereka takut. Dan itu hanya sekedal omongan tidak masuk akal.” Dia berhenti dan menghentikan ceritanya.
“Sampai disini saja ya. Tidak apa-apa jalan kaki?”
Aku cuma mengangguk dan berucap sekedar ber“Terima kasih.” Padanya, telah membagi jasa boncengan.
Ya. Kata orang yang memboncengku proyek ini telah selesai enam bulan yang lalu! Masih hangat aspal-aspal yang menempel dibebatuan ini. Pasir-pasirnya masih putih bersih, tapi sudah meminggir dengan sendirinya. Pasir-pasir itu telah larut ke pinggir jalan. Aku masih melihat tempat pembakaran aspalnya.
Tapi, disana-sini jalan ini sudah berlubang. Kerikilnya sudah berantakan. Akh tidak mungkin enam bulan yang lalu. Kalau enam bulan yang  lalu. Tak akan seberantakan seperti ini. Lalu apa dia berbohong? Juga tidak mungkin kayakya.
***
Ternyata jalan beraspal itu tak sampai ke rumahku. Cuma satu kelo dari jalan raya. Padahal rumahku masih satu kelo lagi. Temanku dipondok juga pernah bercerita, temanku itu orang sulawesi tenggara, katanya di daerahnya adalah satu-satunya penghahasil aspal dan tertua, drum-drum aspal bertumpukan di jalan berdebu. Tapi sampai sekarang jalan itu belum juga beraspal. Aku cuma geleng-geleng.
Apakah ini hanya topeng Kalebun Anyar!
Ada papan berdiri disamping jalan. Tertulis dengan jelas kapan tanggal pelaksanaannya, namun sudah samar-samar tulisan itu. Dibawah papan itu ada papan kecil tertulis
“Proyek ini dilaksanakan dengan biaya pajak yang anda bayar dan hutang luar negeri yang akan dibayar oleh anak-cucu kita.”






Lembah Wungu 2011


[1] Panggilan kades dimadura.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar